Rencana Strategis

KATA PENGANTAR

 

Selama kurun empat tahun terakhir semenjak berdiri tahun 2009, telah terjadi perkembangan signifikan di Program Studi Hubungan Internasional Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana, baik menyangkut perkembangan internal maupun eksternal. Perubahan internal menyangkut perkembangan kualifikasi tenaga edukatif khususnya bergelar magister serta peningkatan jabatan akademik, diversifikasi penelitian serta capaian IPK mahasiswa yang semakin membaik. Sementara itu, penurunan dalam angka efisiensi edukasi semata-mata disebabkan penerimaan mahasiswa baru yang jumlahnya semakin meningkat. Secara eksternal, jumlah lulusan SMA/SMK yang semakin meningkat dalam empat tahun terakhir, ternyata tidak diikuti peningkatan minat mereka dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi guna melakukan peningkatan kualitas sesuai kebutuhan masyarakat. Selain terus berupaya meningkatkan kinerja institusi secara internal, adopsi terhadap dinamika perubahan yang terjadi di pasar kerja dengan mengefektifkan informasi yang diperoleh dari stakeholder calon pengguna lulusanyang sangat diperlukan.

Tersusunnya Renstra  Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana 2010-2015 merupakan Renstra awal yang dibuat oleh institusi ini semenjak berdiri tahun 2009. Hal mendasar yang disusun dalam Renstra Program Studi Hubungan Internasional Unud 2010-2015 antara lain (1) Format penyusunan Renstra 2010-2015 disesuaikan dengan format Renstra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Universitas Udayana yang telah mengadopsi format Renstra Kemendibud. (2) Visi dan misi Program Studi Hubungan Internasional disesuaikan penyusunanannya dengan pertimbangan pada dua hal. Pertama, menyesuaikan dengan Visi dan Misi Universitas Udayana, dan kedua, disesuaikan dengan kekuatan, kelemahan, tantangan dan ancaman ke depan baik faktor internal maupun faktor eksternal. (3) Isu strategis dan strategi dasar yang disampaikan dalam Renstra ini, memperhatikan analisis SWOT dengan mengembangkan program prioritas terkait dengan (1) pemerataan dan perluasan akses pendidikan; (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta (3) penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Selaku Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang bekerja keras demi tersusunnya Renstra Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana 2010-2015. Semoga Renstra ini dapat memberikan nilai tambah dan kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi pengembangan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana di masa mendatang.

 

 

Denpasar, 12 Juli 2010

Program Studi Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Udayana

Ketua PS Hubungan Internasional,

D.A. Wiwik Dharmiasih. S.IP., MA

NIP. 198209302009122002

 


 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Arus perubahan sosial yang berlangsung demikian cepat diiringi kecenderungan global yang melingkupi segenap aktivitas kemasyarakatan maupun kenegaraan, memutlakkan kebutuhan ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas sekaligus memiliki kemampuan menjawab ragam tantangan tersebut. Salah satu kebutuhan yang kian dirasakan mendesak untuk dipenuhi terlebih seiring makin cepatnya arus perubahan sosial serta tuntutan global tersebut adalah penyediaan SDM yang berlatar pendidikan ilmu sosial maupun ilmu politik.

Hal ini cukup beralasan mengingat makin kompleks dan beragamnya persoalan-persoalan kemasyarakatan, termasuk derivat aktivitas yang ada di bawahnya seperti dinamisasi politik di tingkat lokal maupun nasional, inter-relasi antar negara dan kelembagaan internasional, era komunikasi media dan kecanggihan teknologi informasi, pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan  hingga penanganan masalah (patologi) sosial kemasyarakatan yang kian hari mewujud dalam beragam bentuk. Pemahaman ini tidak hanya sebatas pada kemampuan analitik atas teori maupun konsep saja, dan diharapkan juga akan mengharuskan ketersediaan keahlian bersifat teknis yang bertanggungjawab dengan kebutuhan pasar kerja.

Untuk menjawab persoalan tersebut diperlukan adanya pengembangan soft skill yang diharapkan dapat mempertajam peningkatan kualitas luaran sebagaimana diharapkan yaitu memiliki profesionalisme, kemandirian, integritas dan menjunjung tinggi etika dan moral. Berdasarkan pemikiran tersebut disusun Rencana StrategisProgram Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana 2010-2015. Rencana strategis ini antara lain berisi falsafah dasar, visi dan misi, kondisi umum PS.HI Unud, analisis SWOT serta isu strategis dan strategi dasar.

Rencana strategis (renstra) Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana 2010-2015 disusun mengacu pada (1) Renstra Universitas Udayana ; (2) Renstra Fakultas (3) Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang  yaitu daya saing bangsa, otonomi dan kesehatan organisasi; (4) Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Undang-Undang No. 18 tahun 2003 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan PEnerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; (5) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan ; (6) Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

 

1.2.Tujuan

Rencana Strategis Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana disusun dengan tujuan sebagai berikut :

  1. Menyediakan acuan resmi bagi seluruh unit kerja dan lembaga penunjang akademik di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana dalam menentukan prioritas program kerja dan kegiatan secara terpadu dan terarah dalam kurun waktu 5 tahun;
  2. Menguraikan kebijakan dan strategi yang akan diterapkan sehingga melahirkan program kerja yang sesuai dengan visi dan misi;
  3. Sebagai dasar bagi seluruh jajaran untuk menyusun kebijakan dan program-program operasional tahunan.

 

1.3.Manfaat

Renstra Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1)      Sebagai dasar bagi pihak pimpinan dan pengambil kebijakan di tingkat fakultas dalam menentukan program kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam pengembangan pendidikan;

2)      Renstra juga menjadi referensi bagi seluruh civitas academika dan unsur penunjang dalam melaksanakan kegiatan sehingga selaras dengan kebijakan pemerintah.

Renstra dapat menjadi tolok ukur pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana. Adanya renstra diharapkan pelaksanaan Tri Dharma dapat berjalan efektif, efisien dengan melibatkan segenap potensi yang ada.

BAB II

FALSAFAH DASAR

 

Dharma sebagai falsafah dasar Renstra Pembangunan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana merupakan filosofi universal karena Dharma harus menjadi titik awal dari aktivitas manusia, termasuk di Program Studi Hubungan Internasional Unud dalam menjalankan swadharmanya.

Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang berlandaskan dharma akan mampu menjawab tantangan global dalam menciptakan Sumber Daya Manusia yang Unggul, Mandiri dan Berbudaya. Dharma telah diimplementasikan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang di dalam setiap aktivitasnya harus mengacu pada Dharma itu sendiri, antara lain :

  1. Melaksanakan pendidikan   berlandaskan   Dharma,   yang menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan kebebasan akademik;
  2. Melaksanakan   penelitian   berlandaskan   Dharma,   yang menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan kaedah keilmuan;
  3. Melaksanakan pengabdian berdasarkan Dharma, yang menjunjung tinggi kepekaan sosial, toleransi serta kejujuran dan kebenaran.

Dharma sebagai landasan filosofis pengembangan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana dijiwai oleh beberapa hal berikut :

  1. Budaya yang menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran, dan kebebasan akademik;
  2. Pengutamaan kepuasan pengguna layanan pendidikan dengan menetapkan penjaminan mutu untuk memenuhi kebutuhan dan harapan pengguna layanan pendidikan yang senantiasa berkembang;
  3. Tata kelola yang berdasarkan profesionalisme, layanan yang berkualitas, demokratis, dan berjiwa kewirausahaan;
  4. Unggul dan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang dilandasi semangat kemandirian dan otonomi keilmuan;
  5. Memupuk   semangat   kebersamaan   dalam   pembangunan berkelanjutan dalam keharmonisan dengan mengedepankan skala prioritas dalam implementasinya.

BAB III

VISI, MISI DAN TUJUAN

 

3.1  Visi

Menjadi program studi yang unggul, mandiri, dan berbudaya dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan Ilmu Hubungan Internasional yang berdaya saing global pada tahun 2025.

 

Untuk lebih memberi kejelasan makna dari rumusan visi tersebut, maka berikut ini dipaparkan tentang pengertian dari beberapa kata kunci, yaitu:

 

  1. Unggul berarti PSHImampu mengembangkan Ilmu Hubungan Internasional terapan, khususnya dalam isu-isu kontemporer secara optimal dan terstruktur sehingga dapat menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional.

 

  1. Mandiri berarti semua lulusan yang dihasilkan PSHImemiliki kepribadian handal, kompetensi tepat guna, dan cerdas, sehingga mampu bersaing dan meningkatkan kualitas diri.

 

  1. Berbudaya berarti semua lulusan PSHI yang dihasilkan dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan kebenaran akademik, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kearifan lokal dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

 

3.2  Misi

Untuk mewujudkan Visi tersebut, selanjutnya dirumuskan Misi Program Studi sebagai berikut:

 

  1. Menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang memiliki moral serta integritas yang tinggi, sesuai dengan tuntutan masyarakat akademik dan kalangan praktisi dalam bidang Ilmu Hubungan Internasional.

 

  1. Mengembangkan penelitian dalam ruang lingkup Ilmu Hubungan Internasional dan melakukan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan kepentingan masyarakat dan bangsa.

 

  1. Menjadikan PSHI tempat pengembangan Ilmu Hubungan Internasional sekaligus nilai-nilai kearifan budaya lokal, sebagai alternatif solusi persoalan global termasuk resolusi konflik, kemerosotan lingkungan, serta kualitas hidup masyarakat dunia.

 

3.3  Tujuan

Tujuan PSHI adalah menghasilkan Sarjana Ilmu Politik (S.IP) yang memiliki keahlian dan kompetensi di bidang Ilmu Hubungan Internasional dengan standar kualifikasi atau profil lulusan sebagai berikut:

 

  1. Menghasilkan lulusan yang berkualitas dalam hal kemampuan analisa, integritas sikap dan kepribadian, serta kompetensi dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.
  2. Menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan di dunia profesi.
  3. Meningkatkan kualitas pengembangan sumber daya manusia, staf pengajar, dan pegawai dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
  4. Meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap perkembangan terkini dari Ilmu Hubungan Internasional.
  5. Meningkatkan sinergi antara wacana akademik dan pengalaman praktis dalam Ilmu Hubungan Internasional.

 

Visi, misi dan tujuan Program Studi Hubungan Internasional Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana sudah realistis dan berorientasi ke masa depan yang lebih baik, serta konsisten dengan perkembangan budaya dan nilai-nilai pendidikan tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari tujuan pendidikan, yaitu menghasilkan Sarjana di bidang Ilmu Hubungan Internasional yang terbuka dan tanggap terhadap perubahan ilmu dan teknologi serta permasalahan yang dihadapi masyarakat. Dengan adanya kemajuan teknologi, kurikulum di Program Studi Hubungan Internasional menyertakan studi kasus yang diberikan selama perkuliahan, sehingga nantinya diharapkan lulusan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana mampu bersaing dan mengikuti perkembangan yang begitu cepat.

Visi, misi dan tujuan inipun menjadi acuan dalam perencanaan kerja seluruh staf di lingkungan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana. Hal ini tercermin dalam pelaksanaan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang senantiasa berupaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas lulusan.

Program Studi selalu melakukan perubahan-perubahan kurikulum sesuai dengan perkembangan teknologi dan dunia usaha, serta setiap orang yang terlibat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi selalu bertindak dan bekerja sesuai dengan visi, misi dan tujuan fakultas. Hal ini telah mencerminkan standar keunggulan, cita-cita serta dorongan, semangat dan komitmen sivitas akademika dan pegawai dalam mewujudkan perubahan ke arah yang lebih maju.

 

BAB IV

KONDISI UMUM

 

4.1. Kondisi Internal

4.1.1. Sejarah Berdirinya Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana

Arus perubahan sosial yang berlangsung demikian cepat diiringi kecenderungan global yang melingkupi segenap aktivitas kemasyarakatan maupun kenegaraan, memutlakkan kebutuhan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sekaligus memiliki kemampuan menjawab ragam tantangan tersebut. Salah satu kebutuhan yang kian dirasakan mendesak untuk dipenuhi terlebih seiring makin cepatnya arus perubahan sosial serta tuntutan global tersebut adalah penyediaan SDM yang berlatar pendidikan ilmu sosial maupun ilmu politik.

Hal ini cukup beralasan mengingat makin kompleks dan beragamnya persoalan-persoalan kemasyarakatan, termasuk derivat aktivitas yang ada di bawahnya seperti dinamisasi politik di tingkat lokal maupun nasional, inter-relasi antar negara dan kelembagaan internasional, era komunikasi media dan kecanggihan teknologi informasi, pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan  hingga penanganan masalah sosial kemasyarakatan yang kian hari mewujud dalam beragam bentuk. Pemahaman ini tidak hanya sebatas pada kemampuan analitik atas teori maupun konsep saja, dan diharapkan juga akan mengharuskan ketersediaan keahlian bersifat teknis yang bertanggungjawab dengan kebutuhan pasar kerja.

Menjawab kondisi tersebut, Universitas Udayana (Unud) sebagai institusi pendidikan milik negara mendirikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tepat pada tanggal 28 Juni 2009. Dengan berdirinya FISIP sebagai fakultas termuda dari 12 fakultas yang ada di Universitas Udayana, maka diharapkan melalui lembaga ini dapat melahirkan SDM yang handal, unggul, mandiri, berbudaya serta memiliki kualifikasi keilmuan sosial dan politik. Untuk alasan yang lebih spesifik pula, Bali sebagai kawasan yang dikenal strategis di mana seringkali muncul asosiasi maupun seminar-seminar yang bertema penyelesaian masalah-masalah sosial dan politik yang bertaraf regional, nasional maupun internasional, sehingga kehadiran FISIP Unud juga akan dapat memberikan sumbangsih pada pengembangan keilmuan, khususnya di bidang keilmuan sosial dan politik, sekaligus sarana belajar yang ideal bagi para peserta didik.

Penggagas awal Program Studi Hubungan Internasional sekaligus pendiri FISIP di Universitas Udayana adalah Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM) yang saat itu menjabat sebagai Rektor Universitas Udayana. Gagasan ini dimatangkan dengan berdirinya Institute of Peace and Democracy (IPD) yang bertempat di Kampus Unud Bukit Jimbaran.

IPD merupakan lembaga yang didirikan oleh negara sebagai institusi pengembang nilai-nilai perdamaian  dan demokrasi. Salah satu program nyatanya adalah menjadi pendukung terwujudnya Bali Democracy Forum (BDF), sebuah wadah komunikasi antar para pemimpin negara di dunia menyangkut isu-isu perdamaian  dan demokrasi, yang keberadaannya digagas Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Dr. N. Hassan Wirajuda. Momentum tersebut kemudian  ditindaklanjuti dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Luar Negeri RI, Kementerian Pendidikan Nasional dan Universitas Udayana. Maka pada tanggal 10 Desember 2008, IPD diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kampus Bukit Jimbaran. Peresmian ini memperkuat gagasan Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM) untuk segera merealisasikan pendirian FISIP sekaligus pendirian Program Studi Hubungan Internasional untuk pertama kalinya di Provinsi Bali.

IPD yang bersifat independen, nirlaba dan banyak menyelenggarakan berbagai lokakarya, penelitian dan publikasi, membangun jejaring dengan para ahli dan organisasi nasional maupun internasional terkait demokrasi menjadi laboratorium bagi pengembangan ilmu-ilmu sosial dan politik civitas akademika FISIP pada umumnya dan Program Studi Hubungan Internasional pada khususnya, mengingat ruang lingkup kegiatan IPD yang berhubungan erat dengan pengembangan keilmuan Program Studi Hubungan Internasional. Harapan yang hendak dituju adalah sinergi antara FISIP dengan IPD yang dapat menjadi kekuatan baru dalam pengembangan nilai-nilai demokrasi dan  perdamaian sekaligus mengintensifkan kajian di bidang keilmuan sosial dan politik. Hal ini dapat diartikan pula sebagai usaha untuk mengintensifkan pengembangan kajian Ilmu Hubungan Internasional sebagai bagian dari FISIP.

Ide pendirian Program Studi Hubungan Internasional mendapatkan dukungan berbagai pihak, termasuk Menteri Luar Negeri RI saat itu, Dr. N. Hassan Wirajuda. Pada proses perjalanannya, ide dan gagasan pendirian Program Studi Hubungan Internasional makin dimatangkan melalui penyusunan proposal pendirian Program Studi guna mendapatkan surat izin operasional dari Kementerian Pendidikan Nasional.  Beberapa nama terlibat dalam tim penyusunan proposal pendirian program studi yang ada di FISIP, mereka adalah Prof. Dr. I Wayan Suandi, Drs, SH, M.Hum., Drs. Ketut Sudhana Astika, M.Si., Dr. Drs. Gusti Putu Bagus Suka Arjawa. M.Si, serta dibantu beberapa tenaga pengajar lain, yaitu Dr. Ni Luh Kebayantini, M.Si, I Gusti Agung Alit Suryawati, S.Sos, M.Si, I Made Anom Wiranata, S.IP., MA., Ni Made Ras Amanda Gelgel, S.Sos, M.Si, I Ketut Winaya, S.Sos, Ni Wayan Supriliyani, S.Sos dan Drs. I Putu Suhartika, M.Si.

4.1.2.      Jumlah Petugas Edukatif dan Administrasi

Program Studi Hubungan Internasional setiap tahun menambah jumlah tenaga edukatif untuk menunjang segala kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Demikian juga dalam hal peningkatan kualifikasinya. Jumlah dosen yang mengajar di PSHI berjumlah 27 orang, dengan 10 orang dosen pengajar  yang sesuai dengan bidang Program Studi, dan 17 orang dosen yang tidak sesuai dengan bidang Program Studi. Jumlah dosen yang memenuhi kualifikasi S2 sebanyak 20 orang dan jumlah dosen yang memenuhi kualifikasi S3 sebanyak 7 orang.

Selain dukungan tenaga pengajar, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi juga didukung oleh pegawai administrasi sebanyak 16 orang yang terbagi ke dalam kelompok pegawai dengan status PNS sebanyak 11 orang (90 %) dan pegawai dengan status non PNS sebanyak 5 orang (10%).

 

 

Tabel 1

Jumlah Tenaga Edukatif berdasarkan pendidikan

Tahun 2013/2014

Program Studi Pendidikan Jumlah
S3 % S2 % S1 %
Hubungan Internasional 0 0 9 100 0 0 9

 

 

 

 

 

Tabel 2

Jumlah Tenaga Edukatif Berdasarkan Jabatan

Tahun 2013/2014

Program Studi Jabatan Jumlah
Guru Besar % Lektor kepala % Lektor % Ahli %
Hubungan Internasional 0 5 4 15 24

 

 

 

 

 

4.1.3.      Jumlah  Mahasiswa

Jumlah mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana yang tercatat hingga tahun 2014 adalah sejumlah 226 orang. Jumlah tersebut meningkat dari tahun ke tahun dengan sebaran sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

Tabel 4

Jumlah Mahasiswa FISIP Universitas Udayana

Tahun 2009-2013

Prodi/Program Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013
Hubungan Internasional 34 49 43 52 48
Jumlah 34 83 126 178 226

 

Penerimaan mahasiswa baru di lingkungan FISIP Unud terdapat tiga jalur sebagai berikut :

a) Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)

Seleksi ini dilakukan melalui ujian tulis dan dilaksanakan secara nasional, bersama-sama seluruh Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia;

 

b)Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)

Ujian SBMPTN terdiri atas ujian tertulis dan ujian keterampilan. Ujian tertulis berlaku bagi semua peserta, sedangkan ujian keterampilan hanya berlaku bagi peserta yang memilih program studi bidang Ilmu Seni dan Keolahragaan;

c) SPMB– Ujian Mandiri (PMDK)

Seleksi dilakukan melalui ujian tulis yang diselenggarakan oleh Universitas secara mandiri.

 

4.2.      Kondisi Ekternal

Selama tahun 2005-2011 jumlah lulusan SMA/SMK di Provinsi Bali meningkatrata-rata 0,76 persen, yaitu 22.509 orang pada tahun 2005 menjadi 23.534 orang pada tahun 2011. Beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya lulusan SMA/SMK dapat diuraikan sebagai berikut.

1)      Meningkatnya penduduk usia sekolah pada tingkat SMA/SMK  yang berkisar antara 17-21 tahun selama tahun 2005-2011.

2)      Meningkatnya jumlah sekolah SMA/SMK di berbagai wilayah di Provinsi Bali, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta.

3)      Meningkatnya bantuan pemerintah kepada sekolah-sekolah yang menyebabkan menurunnya biaya operasional per siswa sehingga anggota rumah tangga yang kurang mampu dapat menikmati pendidikan pada tingkat SMA/SMK. Beberapa kabupaten/kota juga memberikan biaya pendidikan gratis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

4)      Meningkatnya pendapatan masyarakat sehingga memudahkan akses mereka terhadap pendidikan, khususnya SMA/SMK.

5)      Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peningkatan pendidikan, baik sebagai prasyarat untuk mencari kerja atau untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih lanjut (perguruan tinggi).

 

 

Tabel 8

Jumlah Lulusan SMA/SMK di Provinsi Bali 2005 – 2011

 

Tahun Negeri Swasta Total
Laki Perempuan Jml Laki Perempua n Jml
2005 5.785 4.796 10.581 6.921 5.007 11.928 22.509
2006 5.738 4.748 10.486 6.858 4.946 11.804 22.290
2007 6.311 5.497 11.808 6.525 4.293 10.818 22.626
2008 6.378 5.713 12.091 5.968 4.473 10.441 22.532
2009 7.138 6.198 13.336 4.817 3.538 8.355 21.691
2010 7.675 6.982 14.657 4.609 3.458 8.067 22.724
2011 8.304 7.334 15.638 4.444 3.452 7.896 23.534

 

Sumber: Bappeda Provinsi Bali, 2012

Di pihak lain, mahasiswa yang masuk di perguruan tinggi negeri di Provinsi Bali, tahun 2005 – 2011 mengalami penurunan rata-rata 5,30 persen per tahun, yaitu dari 22.289 orang pada tahun 2005 menjadi 15.200 orang pada tahun 2011, seperti yang ditampilkan pada Tabel 9.

Tabel 9

Jumlah Mahasiswa dan Dosen di Perguruan Tinggi Negeri di

Provinsi Bali, Tahun 2005 – 2011

 

Tahun Mahasiswa Dosen
Laki Perempuan Jml Laki Perempuan Jml
2005 12.354 9.935 22.289 1.869 589 2.458
2006 12.635 1.045 13.680 1.969 613 2.582
2007 9.551 7.486 17.037 1.166 387 1.553
2008 10.970 8.692 19.662 1.665 555 2.220
2009 15.135 12.683 27.818 2.007 745 2.752
2010 8.556 8.363 16.919 2.009 775 2.784
2011 8.905 6.295 15.200 2.043 700 2.743

 

Sumber: Bappeda Provinsi Bali, 2012

Penurunan jumlah mahasiswa di perguruan tingi negeri disebabkan antara lain oleh karena semakin tingginya biaya pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini tidak sesuai pula dengan kinerja perekonomian daerah maupun nasional, yaitu adanya pengangguran yang semakin banyak, dan pendapatan riil yang meningkat tidak banyak, menyebabkan lulusan SMA/SMK cenderung mencari lembaga pendidikan yang instant (cepat tamat) dengan biaya murah, dengan strata pendidikan diploma, yang mana lebih menjanjikan dalam memberikan peluang kerja, misalnya yang berkaitan dengan bisang kepariwisataan dan industri.

Seperti yang disajikan pada tabel 9,  tenaga pengajar atau dosen pada pada perguruan tinggi negeri di di Provinsi Ball selama tahun 2005 – 2011 juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,93 persen per tahun, yaitu dari 2.458 orang pada tahun 2005 menjadi 2.743 orang pada tahun 2011. Peningkatan tenaga dosen tersebut tidak lepas dari tujuan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di perguruan tinggi secara kuantitatif dengan jalan memperkecil ratio dosen mahasiswa dan secara kualitatif meningkatkan strata pendidikan para dosen.

Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa lulusan pada perguruan tinggi negeri di di Provinsi Bali, selama tahun 2005 – 2011 mengalami peningkatan dari 4.064 orang pada tahun 2005 menjadi 10.700 orang pada tahun 2011, atau dengan peningkatan rata-rata 27,61 persen per tahun selama periode tersebut.

 

 

Tabel 10

Jumlah Lulusan PTN di Provinsi Bali, Tahun 2005 – 2011

 

Tahun Laki – Laki Perempuan Jml
2005 2.300 1.764 4.064
2006 5.139 3.989 9.128
2007 4.850 3.938 8.788
2008 4.748 3.515 8.263
2009 3.744 2.954 6.698
2010 4.544 5.789 10.333
2011 6.069 4.631 10.700

 

Sumber: BappedaProvinsi Bali, 2012

Meningkatnya lulusan perguruan tinggi negeri disebabkan oleh semakin baiknya proses belajar mengajar, meningkatnya prasana dan sarana pendidikan., meningkatnya pendidikan dan disiplin dosen, serta meningkatnya disiplin mahasiswa, sehingga masa studi mahasiswa bisa diproyeksikan tepat waktu dan dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semakin tinggi.

 

 

BAB V

ANALISIS SWOT

Analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats) merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang kekuatan dan kelemahan yang dimiliki lembaga serta peluang dan ancaman yang dihadapi. Penyusunan analisis SWOT Program Studi Hubungan Internasional (PSHI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Udayana (Unud) didasarkan atas data kualitatif dan kuantitatif dari sumber internal dan eksternal. Informasi yang diperoleh dari data internal berkaitan dengan proses pendidikan, staf akademik dan administrasi, pendanaan, fasilitas fisik, laboratorium, perpustakaan, manajemen dan organisasi. Adapun data yang diperoleh dari sumber eksternal berupa kondisi permintaan terhadap lulusan, kondisi pasar kerja, dan informasi dari pemangku kepentingan.

Berdasarkan atas hasil analisis SWOTselanjutnya dapat diketahui strategi dan aktivitas yang dirancang untuk kelemahan dan ancaman serta memanfaatkan kekuatan dan peluang. Berikut ini disampaikan kekuatan dan kelemahan (Profil PSHI FISIP Unud) serta peluang dan ancaman yang mungkin dihadapi.

 

Kekuatan

  1. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran PSHI sangat jelas sesuai Visi dan Misi FISIP Unud, yang sesuai dengan perkembangan dunia kerja dan tuntutan transparansi.
  2. Visi telah menunjukkan wawasan ke depan dengan menekankan pada akhlak mulia.
  3. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran sudah dirumuskan dengan jelas yang disertai dengan lingkup capaian yang akan dituju serta dijabarkan dalam Sasaran dan Strategi (Renstra dan Renop) sehingga dapat digunakan sebagai pedomanpenyusunan kebijakan.
  4. Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kepentingan masyarakat dalam pembentukan, pelaksanaan, dan pengembangan pendidikan khususnya di bidang Ilmu Hubungan Internasional.
  5. Pada struktur organisasi terdapat pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab yang jelas dengan personel yang kompeten dan berkomitmen.
  6. Terdapat pusat studi European Union Information Center (EUIC) dalam melakukan kerjasama dan kajian ilmiah.
  7. Terdapat Pusat Studi ASEAN (PSA) dalam melakukan kerjasama dan kajian ilmiah.
  8. Terdapat laboratorium komputer, Lab Bahasa, dan Lab Hubungan Internasional (HI) yang memadai.
  9. Keterlibatan semua sivitasakademikadalam proses perumusan kebijakan pengelolaan dan pelaksanaan Program Studi (PS).
  10. Sistem kepemimpinan secara umum sudah cukup kredibel, transparan,akuntabel,responsible (bertanggungjawab)dan adil.
  11. Mekanisme pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah mufakat dan dapat dipertanggungjawabkan.
  12. Sistem perencanaan, pelaksanaan evaluasi dan pengembangan PS dilakukan secara terprogram dan terarah.
  13. Keterlibatan atau kepercayaan yang tinggi dari masyarakat terhadap PSHI.
  14. Mekanisme penjaminan mutu senantiasa diterapkan untuk tiap kegiatan PSHI.
  15. Terbentuknya Tim Pelaksana Penjaminan Mutu Program Studi (TPPMPS) disertai mekanisme penjaminan mutu hirarkis yang melibatkan pihak eksternal.
  16. Terselenggaranya audit internal (evaluasi) oleh pihak Universitas.
  17. Sistem informasi dengan infrastruktur, piranti keras,dan piranti lunakyang memadai disertai dengan kemudahan akses baik melalui jaringan intranet maupun internet.
  18. Meningkatnya IPK lulusan.
  19. Mahasiswa secara intensif melakukan kegiatan akademis dan non-akademis
  20. Program Studi (PS) melakukan seleksi terhadap mahasiswa.
  21. Proporsi dosen yang memiliki pendidikan S2, tinggi.
  22. Kehadiran tenaga pendidik dalam proses pembelajaran, tinggi.
  23. Rasio dosen dan tenaga kependidikan dengan mahasiswa yang ideal.
  24. Adanya peraturan kerja dan kode etik yang harus dilaksanakan oleh dosen.
  25. Komitmen staf pengajar yang tinggi terhadap kualifikasi proses pembelajaran.
  26. Untuk setiap mata kuliah yang termuat dalam kurikulum telah dilengkapi silabus/GBPP, SAP, handout, memuat materi disertai studi kasus sebagai implementasi kurikulum berbasis berkompetensi.
  27. Kurikulum institusi disusun dengan memasukkan muatan lokal sesuai dengan kebutuhan pasar.
  28. Kurikulum dievaluasi secara periodik setiap 5 tahun (disesuaikan dengan kebutuhan pemangku kepentingan).
  29. Revisi SAP dilakukan melalui pelaksanaan lokakarya penyusunan SAP yang dihadiri oleh dosen dan pemangku kepentingan.
  30.  Adanya integrasi antar disiplin ilmu dan antar Mata Kuliah (MK) melaluipenyusunan distribusi Mata Kuliah yang harus ditempuh mahasiswa secara berurutan dengan menerapkan MK prasyarat.
  31. Adanya anggaran yang pasti bersumber dari APBN.
  32. Memiliki sistem dan manajemen terpadu.
  33. Jumlah mahasiswa yang cukup besar sebagai sumber pendanaan.
  34. Kondisi gedung: ruang kuliah, laboratorium dan sarana penunjang pendidikan cukup baik.
  35. Fasilitas administrasi memadai.
  36. Jumlah laboratorium memadai.
  37. Fasilitas teknologi dan komunikasi memadai.
  38. Areal parkir cukup memadai.
  39. Adanya jurnal elektronik.
  40. Ketersediaan jurnal ilmiah yang terakreditasi dan buku kumpulan penelitian Ilmu Hubungan Internasional untuk menunjang kegiatan penulisan karya ilmiah.
  41. Memiliki database dan piranti lunak yang memadai untuk menunjang kegiatan penelitian dan riset.
  42. Adanya anggaran yang cukup besar untuk penelitian, publikasi dan PKM dari perguruan tinggi sendiri.
  43. Meratanya penyebaran kesempatan dosen melakukan penelitian, publikasi, dan PKM.
  44. Semakin banyaknya kerjasama yang terjalin.
  45. Citra Unud yang semakin baik menuju World Class University sehingga memudahkan untuk menjalin kerjasama dengan pihak luar.

 

Kelemahan

  1. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran belum diwujudkan secara maksimal, kemungkinan salah satu penyebab sosialisasi belum maksimal, terutama di kalangan mahasiswa.
  2. Pelaksanaan tugas dan wewenang Laboratorium HI masih perlu ditingkatkan.
  3. Pemanfaatan laboratorium oleh pihak eksternal masih perlu ditingkatkan.
  4. Partisipasi sivitasakademikadalam beberapa kegiatan akademis secara umum masih harus ditingkatkan.
  5. Kerjasama dan kemitraan masih perlu ditingkatkan.
  6. Kinerja TPPMPS masih perlu ditingkatkan.
  7. Pemanfaatan infrastuktur sistem informasi masih perlu ditingkatkan.
  8. Keikutsertaan mahasiswa dalam kompetisi karya ilmiah tingkat nasional perlu ditingkatkan.
  9. Masih minimnya dosen yang memiliki kualifikasi S3.
  10. Minimnya alokasi penerimaan tenaga pendidik yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama periode dua tahun terakhir.
  11. Belum banyak dosen yang menulis dalam jurnal internasional.
  12. Minimnya dosen yang berprofesi sebagai praktisi.
  13. Perancangan tugas-tugas yang lebih memotivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran.
  14. Minimnya kesadaran mahasiswa dalam mengumpulkan tugas tepat waktu.
  15. Kurangnya kesadaran mahasiswa mengenai arti penting pelaksanaan tugas terstruktur.
  16. Jumlah anggaran yang diperlukan selalu meningkat yang tidak seimbang dengan sumber-sumber dana yang berasal dari APBN.
  17. Ruang dosen kurang memadai.
  18. Jumlah koleksi buku dan jurnal kurang memadai.
  19. Jumlah jurnal elektronik berlangganan belum dimanfaatkan optimal oleh mahasiswa maupun dosen.
  20. Mahasiswa harus lebih dilibatkan dalam melakukan kegiatan penelitian dan PKM.
  21. Masih belum optimalnya pemanfaatan dana dari perguruan tinggi sendiri dan dana dari luar perguruan tinggi.
  22. Belum memiliki hak paten atau hak cipta produk.

 

Peluang

  1. Banyaknya peluang kerjasama yang terbuka dengan berbagai lembaga di dalam dan di luar negeri untuk mendukung pencapaian Visi, Misi Tujuan, dan Sasaran PSHI.
  2. Terbukanya kesempatan untuk memperoleh dana-dana hibah terutama dari Dikti untuk membantu pencapaian Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran.
  3. Masih sangat sedikitnya lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan PSHI di Bali.
  4. Terdapat banyak lembaga pendidikan yang tidak memiliki laboratorium lengkap, sehingga masih banyak peluang untuk memberikan pelatihan.
  5. Terbukanya keterlibatan para akademisi dan praktisi  dalam membantu pengembangan PSHI.
  6. Pihak universitas memberikan dukungan yang besar pada pengembangan PSHI.
  7. Adanya kesempatan untuk menjalin kerjasama dan kemitraan dengan berbagai pihak.
  8. Terdapatnya Perguruan Tinggi di dalam dan di luar negeri yang dapat dijadikan benchmark (tolok ukur).
  9. Adanya pedoman pelaksanaan penjaminan mutu perguruan tinggidari Dirjen Dikti.
  10. Adanya pedoman dan bimbingan pelaksanaan penjaminan mutu dari pihak Universitas.
  11. Perkembangan teknologi informasi yang semakin mutakhir.
  12. Kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas semakin meningkat.
  13. Pendapatan masyarakat semakin meningkat.
  14. Besarnya minat lulusan sekolah lanjut untuk mengikuti pendidikan tinggi.
  15. Meningkatnya jumlah peminat (calon mahasiswa).
  16. Kualitas input (calon mahasiswa) semakin baik.
  17. Ketersediaan tenaga kependidikan HI yang tersebar luas.
  18. Kerjasama dengan instansi terkait (Kementerian Luar Negeri, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga-Lembaga Internasional,dan lain-lain) yang menunjang materi perkuliahan dan menambah jaringan kerjasama.
  19. Adanya keleluasaan PSHI untuk menentukan isi kurikulum sesuai dengan kebutuhan pengguna lulusan.
  20. Kemajuan teknologi informasi mempermudah penyesuaian kurikulum.
  21. Kerjasama dengan praktisi dan alumni semakin meningkatkan dukungan untuk pemantauan dan pengkajian kurikulum.
  22. Peningkatan jumlah kerjasama yang dilakukan dengan perusahaan dan instansi membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan PKM.
  23. Meningkatkan kerjasama dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada instansi terkait baik BUMN, BUMD, maupun BUMSdi dalam maupun luar negeri untuk mencari sumber dana lain.
  24. Sarana dan prasarana yang memadai memberikan citra positif kepada masyarakat, sehingga menarik minat calon mahasiswa baru.
  25. Mampu menghasilkan lulusan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
  26. Memungkinkan kerjasama dengan pihak luar dalam pengembangan sarana dan prasarana perkuliahan.
  27. Adanya minat instansi dan lembaga di luar perguruan tinggi sendiri untuk melakukan kerjasama di bidang penelitian dan PKM.
  28. Banyaknya potensi sumber dana penelitian dan PKM dari luar perguruan tinggi sendiri.
  29. Peluang kompetensi dan publikasi ilmiah dari berbagai jurnal nasional dan internasional.
  30. Tuntutan sertifikasi dosen yang dapat mendorong kinerja dosen.
  31. Adanya keinginan setiap perguruan tinggi untuk mencitrakan diri sebagai universitas global sehingga dibutuhkan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di luar negeri.
  32. Banyaknya peluang kerjasama yangt ditawarkan dari pemerintah daerah.
  33. Berkembangnya UMKM di daerah Bali memerlukan banyak kajian ilmiah/ riset.

 

 

Ancaman

  1. Adanya perkembangan tata pamong yang pesat dari perguruan tinggi lain.
  2. Kemungkinan SDM yang bermutu di PSHI diambil alih pesaing.
  3. Adanya kecenderungan pihak eksternal dalam menjalin kerjasama dengan PS sejenis di Perguruan Tinggi lain. Kepercayaan pihak eksternal terhadap PS sejenis di perguruan tinggi lain dalam menjalin kerjasama.
  4. Munculnya pesaing ketat dengan PS sejenis di perguruan tinggi lain yang juga mengutamakan kualitas.
  5. Banyaknya PS sejenisPSHI yang telah mendapatkan akreditasi A.
  6.  Rentannya sistem informasi berbasis komputer oleh virus dan peretas.
  7. Makin meningkatnya syarat kualifikasi untuk bekerja di sektor modern pada era globalisasi.
  8. Persaingan semakin ketat dalam memperoleh kesempatan kerja bagi lulusan.
  9. Munculnya lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan program jangka pendek dan menjanjikan lulusan siap kerja.
  10. Terbatasnya tenaga pendidik yang berkualifikasi doktoral.
  11. Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat menyebabkan sarana dan prasarana yang dimiliki cepat using dan kurang dapat diantisipasi dengna baik.
  12. Perubahan tuntutan pasar kerja sangat cepat.
  13. Bidang pekerjaan menuntut kualifikasi lulusan semakin tinggi.
  14. Persaingan ketat antar perguruan tinggi yang berkaitan dengan adaptivitas adaptasi terhadap perubahan kurikulum, khususnya perguruan tinggi yang bekerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri.
  15. Sistem anggaran dan manajemen keuangan terpadu, memperpanjang proses birokrasi keuangan PS dalam pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi masing-masing PS dibawahnya.
  16. Kurangnya minat baca dan daya beli masyarakat terhadap karya ilmiah.
  17. Masih kurangnya kesadaran dan minat masyarakat untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan dan berpartisipasi dalam kegiatan PKM yang diinisiasi oleh PSHI.
  18. Persaingan antar perguruan tinggi dalam memanfaatkan berbagai sumber dana penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
  19. Semakin terbukanya kesempatan perguruan tinggi luar negeri untuk membuka cabang di Indonesia.
  20. Berkembangnya teknologi dalam pengembangan hasil riset internasional yang begitu cepat yang menyebabkan pihak lembaga kalah cepat dalam mengikuti perubahannya sehingga menuntut adanya daya adaptif yang tinggi.

 

 

Strategi untuk mewujudkan Visi dan Misi PSHI dengan memperhatikan analisis SWOTdapat dirumuskan sebagai berikut:

 

  1. Memilih Keuntungan
  2. Penguatan program peminatan.
  3. Peningkatan penerimaan mahasiswa.
  4. Peningkatan pemanfaatan dosen untuk menciptakan pengembangan PS sesuai dengan konsentrasi yang ada.
  5. Peningkatan pemanfaatan dosen dalam penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang dapat digunakan sebagai sumber dana PS.

 

  1. Memanfaatkan Peluang
  2. Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran melalui penugasan dari dosen kepada mahasiswa.
  3. Pengembangan sarana teknologi informasi yang mudah digunakan dan diakses oleh sivitas akademika.
  4. Peningkatan kerjasama dengan mitra.
  5. Peningkatan potensi internal.

 

  1. Mengerahkan Kekuatan
  2. Sosialisasi program peminatan.
  3. Meningkatkan kualifikasi pendidikan formal pada dosen-dosen muda.
  4. Optimalkan dan aktualisasikan kemampuan dosen S2 dan S3 yang dimiliki.
  5. Peningkatan peran konsentrasi sebagai think-tank PS.

 

  1. Mengendalikan Ancaman
  2. Penyesuaian kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan perubahan atau kebutuhan pengguna.
  3. Peningkatan kualitas dosen yang lebih terarah.
  4. Peningkatan jumlah keterlibatan jumlah dosen tamu dan praktisi dalam proses pembelajaran.
  5. Peningkatan seminar, penelitian, dan publikasi.
  6. Peningkatan kemampuan dosen maupun pegawai dalam berbahasa asing selain Bahasa Inggris aktif-pasif.
  7. Membuka kerjasama dengan PS di perguruan tinggi lainnya didalam maupun luar negeri.

BAB VI

ISU STRATEGIS, STRATEGI DASAR DAN

PENGEMBANGAN DASAR

6.1              Isu Strategis

Perkembangan dunia pendidikan tinggi yang semakin responsif dan berkualitas merupakan suatu kebutuhan utama dalam menyongsong era globalisasi. Pesatnya gelombang globalisasi  yang pesat dan komprehensif memaksa pendidikan tinggi khususnya dalam kajian keimuan sosial politik senantiasa harus mengacu kepada kemandirian organisasi yang sehat, berwawasan, berbudaya, dan berdaya saing. Demikian pula halnya dengan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana, hendaknya beroperasi dan dikembangkan secara komprehensif mengacu dari visi-misi yang ditetapkan maupun dari kajian atas berbagai potensi keunggulan dan kelemahan (analisis SWOT) sehingga memiliki sustainabilitas dan berdaya saing. Dengan demikian, berbagai isu strategis yang dapat dinyatakan meliputi hal-hal sebagai berikut.

 

6.1.1        Lingkungan Nasional, Regional dan Internasional

1)            Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, khususnya di bidang sosial politik akibat pesatnya perkembangan dunia global sehingga membutuhkan penyelenggaraan pendidikan tinggi di bidang keilmuan sosial politik yang analitik, responsif, dan adaptif;

2)            Adanya berbagai perubahan kebijakan pemerintah sebagai regulator di bidang pendidikan dalam mengantisipasi perkembangan global.

6.1.2        Lingkungan Akademik

1)            Proyeksi kualitas lulusan FISIP Unud masih harus disesuaikan dengan  kebutuhan dan harapan pasar kerja dalam rangka menciptakan SDM yang andal dan berdaya saing pada tingkat regional, nasional, dan internasional;

2)            Produktivitas maupun kualitas dari penelitian dan pengabdian serta pelayanan kepada masyarakat yang masih rendah karena jumlah dosen yang masih belum memadai;

3)            Masih dalam peridosasi rintisan dalam hal jalinan kerjasama antara FISIP Unud dengan berbagai instansi swasta maupun lembaga pemerintahan.

6.1.3        Kapasitas dan Kinerja Kelembagaan

1)              Belum terciptanya budaya organisasi yang sehat dan bersinergi antar program studi dan unit kerja di lingkungan FISIP Unud berlandaskan transparansi dan akuntabilitas yang berkesinambungan;

2)              Kapasitas maupun kualitas dari setiap unit kerja penunjang pendidikan dan proses pembelajaran yang belum memadai;

3)              Rendahnya kesiapan FISIP Unud dalam menyongsong era globalisasi;

4)              Rendahnya kualitas dan intensitas pemanfaatan dan pengembangan teknologi informasi maupun komunikasi dalam menunjang proses pembelajaran serta penyelenggaraan manajemen fakultas dan program studi.

6.1.4        Sumber Daya Keuangan

1)      Sumber daya keuangan yang masih terbatas dan harus terus digali guna mencukupi untuk pengembangan sarana dan prasarana serta peningkatan kualitas SDM dalam menunjang pencapaian visi dan misi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana;

2)      Adanya alokasi pendapatan kepada pihak lain di lingkungan universitas yang membutuhkan tunjangan pendanaan sementara sumber pendapatan yang diperoleh langsung dari masyarakat masih sangat terbatas;

3)      Masih belum kondusifnya pelaksanaan mekanisme pemerolehan, penggunaan dan pelaporan keuangan yang ditetapkan pemerintah.

 

 

6.1.5        Sumber Daya Manusia

1)              Adanya komposisi yang belum memadai antara jumlah dosen dan mahasiswa pada semua program studi;

2)              Rendahnya kuantitas dosen yang berkualifikasi Guru Besar;

3)              Masih belum terbentuknya atmosfir akademik yang kondusif oleh sivitas akademika FISIP Unud.

 

 

6.2              Strategi Dasar

Berdasarkan ganbaran umum internal maupun eksternal serta hasil analisis SWOT yang telah diuraikan sebelumnya maka strategi dasar yang dapat ditetapkan dalam rangka pengembangan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana selanjutnya adalah sebagai berikut :

1)             Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses pembelajaran dikalangan sivitas akademika yang ada dan yang potensial;

2)             Meningkatkan mutu dan relevansi, baik terhadap kompetensi lulusan maupun daya saing lulusan, khususnya di bidang keilmuan Sosiologi, Hubungan Internasional, Administrasi Negara,  Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi dan D-3 Ilmu Perpustakaan;

3)             Meningkatkan pemberdayaan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.

Untuk mencapai visi dan misi dalam menciptakan lembaga Program Studi Hubungan Internasional yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, mandiri dan berbudaya dalam bidang keilmuan sosial politik maka strategi dasar yang ditetapkan tersebut terurai pada program-program kerja yang diprioritaskan dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, kerjasama, pelatihan SDM tentang teknologi informasi, komunikasi, kepemimpinan, organisasi dan berbagai keahlian fungsional maupun profesional yang bersertifikasi.

 

 

6.3              Strategi Pengembangan Dasar

1)      Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses pembelajaran dikalangan sivitas akademika yang ada dan yang potensial.

a)      Membuka  pusat-pusat   informasi   yang   ditujukan  kepada kemudahan akses informasi pembelajaran di kalangan internal  sivitas akademika dan eksternal (masyarakat) yang berpotensi untuk membutuhkan informasi pendidikan, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.

b)      Mengembangkan sarana teknologi informasi yang mudah digunakan dan diakses oleh kalangan internal maupun eksternal.

2)      Meningkatkan mutu dan relevansi, baik terhadap kompetensi lulusan maupun daya saing lulusan, khususnya di bidang ilmu Hubungan Internasional.

a)      Mengefektifkan keberadaan Unit Penjaminan Mutu Fakultas dan didukung oleh Tim Pelaksana Penjaminan Mutu Program Studi;

b)      Membuka peluang dan mendorong dosen maupun pegawai untuk meningkatkan kapasistas dan kompetensi diri;

c)      Mengembangkan dan meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana maupun prasarana pendidikan dan teknologi informasi.

3)      Meningkatkan pemberdayaan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.

a)      Menyelenggarakan peningkatan kapasitas pimpinan fakultas beserta  pelaksana   kebijakan,   khususnya   bagi   SDM penunjang dalam melaksanakan good governance;

b)      Menetapkan dan menyelenggarakan sistem  reward  punishment secara disiplin dan berkesinambungan;

c)      Mengembangkan mekanisme pengelolaan keuangan transparan dan akuntabel;

d)     Menekan seminimal mungkin KKN dan  profesionalisme;

e)      Menyelenggarakan SIMAK, SIMPEG dan SIMKEU jelas, tegas dan konsisten.


BAB VII

PENUTUP

Rencana Strategis Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana 2010-2015 merupakan  acuan pengembangan dan pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan yang terencana, terarah dan terukur dengan berpedoman pada tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Rencana strategis ini diharapkan dapat menjadi pedoman kebijakan bagi pimpinan dan pedoman pelaksanaan bagi pemangku kepentingan lainnya sehingga semua potensi fokus terintegrasi mengarah pada tujuan dan sasaran yang jelas sesuai dengan yang ditetapkan.

Penyusunan visi dan misi yang dituangkan dalam renstra ini telah melalui proses analisis baik internal maupun eksternal yang melibatkan civitas akademika Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana. Proses penentuan tujuan dan sasaran serta isu strategis didasari dengan analisis SWOT mengenai kondisi internal maupun eksternal.

Sebagai pedoman kerja, Renstra Program Studi Hubungan Internasional Universitas Udayana memiliki peran strategis dalam mengarahkan berbagai program dan aktivitas selama jangka waktu lima tahun (2010-2015). Kepala Program Studi Hubungan Internasional Unud menjadikan Renstra ini sebagai kebijakan dan pedoman kerja yang terukur. Tolak ukur kinerja Kepala Program Studi didasarkan atas indikator capaian sesuai tujuan dan sasaran dalam renstra.

 

LAMPIRAN

RINCIAN PROGRAM PENGEMBANGAN DASAR

 

Isu Utama Strategi Pengembangan Dasar
  1. Daya tampung mahasiswa S-1 belum optimal
ð       Meningkatkan penerimaan mahasiswa 100 persen
  1. Kualitas SDM belum memadai (kognitif, psikomotorik, dan soft skill)
ð       Meningkatkan kualitas SDM mencapai 100 persen dosen berkualifikasi minimal S2ð       Meningkatkan jumlah dosen bersertifikasið       Meningkatkan kemampuan dosen dalam proses pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.ð        Meningkatkan kemampuan dosen maupun pegawai dalam berbahasa Inggris aktif-pasif.

ð       Membuka jalinan kerjasama dengan berbagai instansi dalam dan luar negeri

ð       Meningkatkan kemampuan semua tenaga administrasi (bersertifikasi) melalui pelatihan administrasi dan teknologi informasi.

ð       Meningkatkan Pelatihan Penulisan Jurnal-jurnal Publikasi.

  1. Efisiensi penyelenggaraan pendidikan belum optimal.
ð       Meningkatkan IPK lulusan dan TOEFLð       Meningkatkan jumlah calon lulusan (input = output)ð       Meningkatkan percepatan waktu penyelesaian studi mahasiswa S1 maksimal 4 tahun.ð       Menetapkan penyelesaian skripsi mahasiswa, maksimal 1semester

ð       Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dalam proses pembelajaran melalui penugasan dari dosen kepada mahasiswa

ð       Menggunakan buku ajar pada semua mata kuliah

ð       Menyelenggarakan remedial dalam semester yang sama

ð       Meningkatkan kualitas semester khusus

ð       Meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian secara bersama-sama (dosen, mahasiswa, dan pihak eksternal)

  1. Relevansi pendidikan belum tercapai.
ð       Menyempurnakan kurikulum berbasis kompetensi sesuai dengan perubahan atau kebutuhan pasarð       Meningkatkan jumlah keterlibatan dosen tamu dan praktisi dalam proses pembelajaran
  1. Lingkungan akademik belum kondusif

 

ð       Meningkatkan kualitas bank data dan referensi (lokal, nasional, dan internasional)ð       Melaksanakan lokakarya analisis kuantitatif secara berkalað       Menyelenggarakan lokakarya metodologi riset dan pengabdian masyarakat secara berkalað       Menyelenggarakan kursus bahasa Inggris secara intensif

ð       Menyelenggarakan kursus komputer dan teknologi informasi bagi dosen secara teratur

ð       Meningkatkan penyelenggaraan kuliah umum oleh dosen luar negeri

ð       Melaksanakan Seminar Nasional minimal 1 tahun sekali

ð        Menghasilkan kertas kerja ilmiah tiap bulan untuk tiap program studi

ð       Mengadakan pertemuan akademik secara teratur untuk tiap program studi.

ð       Merealisasikan akreditasi Jurnal Ilmu Hubungan Internasional

  1. Kuantitas sarana pendidikan, Penelitian dan pengabdian pada masya­rakat masih Rendah
ð       Meningkatkan jumlah ruang kuliah 100 persenð       Menyediakan ruang kerja bagi semua dosenð       Menambah ruang bacað       Membangun ruang data

ð       Menambah koleksi buku dan jurnal ilmiah

ð       Mengadakan ruang laboratorium prodi

ð       Menambah fasilitas komputer

ð       Menambah ruang administrasi

ð       Membangun ruang seminar dan ruang ujian

  1. Sumber dana terbatas.
ð       Memantapkan perencanaan penganggaran fakultas dan program studið       Menggalang kerjasama yang lebih ekstensif dan intensif dengan pihak luar di bidang penelitian, pendidikan dan pelatihanð       Menggalang kerjasama yang baik dengan pihak pemerintah daerah dan institusi lainnya.
  1. Organisasi dan Manajemen belum efektif.

 

ð       Memantapkan kontrol internð       Melaksanakan penarikan dan penempatan posisi pegawai sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.ð       Menentukan penarikan tenaga administrasi secara otonomi (honorer/kontrak).ð       Menyediakan tenaga administrasi yang cakap bagi jurusan

ð       Menyediakan pustakawan yang handal

ð       Menyelenggarakan latihan manajemen dan kepemimpinan bagi semua tenaga administrasi

ð       Mengupayakan setidaknya 55 persen dosen sudah menduduki jabatan lektor kepala

ð       Mengupayakan setidaknya 35 persen dosen sudah menduduki jabatan lektor.

ð       Mengupayakan setidaknya 10 persen dosen sudah menduduki jabatan Guru Besar,

ð       Memantapkan struktur organisasi fakultas dan program studi

ð       Mengaktifkan keberadaan lab komputer

ð       Mengupayakan Dekan minimal bergelar Doktor, mampu berbahasa Inggris (aktif-pasif), mampu mengkaji masalah-masalah aktual, berorientasi akademis, demokratis serta berwawasan luas ke depan.

  1. Inefisiensi dan inefektivitas system informasi akademis, keuangan, dan inventaris maupun pangkalan data
ð       Implementasikan Simak, Simpeg, dan Simkeu secara efektif dan konsisten.
  1. Rendahnya keterjalinan antar civitas akademik dan pegawai
ð       Meningkatkan kuantitas dan kualitas pertemuan antara pimpinan, dosen dan pegawai secara rutin untuk monitoring dan evaluasið       Menetapkan dan meningkatkan pemanfaatan wadah kekeluargaan melalui sosialisasi keberadaan dan program kerja BK FISIP Unud
  1. Rendahnya komunikasi dan interaksi alumni dan lembaga
ð       Proyeksi dalam pembentukan Ikayana komisariat FISIP- Unud disertai pembentukan Forum Komunikasi Alumni Program Studi dan Program Diploma Ilmu Perpustakaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *