HI FISIP Unud Ajak Siswa SMAN 1 Sukawati Promosikan Budaya Lokal ke Kancah Global
Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Udayana kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan pengabdian Masyarakat dengan menggelar kegiatan edukasi dan kampanye “Global Class, Local Wisdom: Membangun Wawasan Internasional Berbasis Kearifan Lokal Sukawati”. Kegiatan ini berlangsung di Aula SMAN 1 Sukawati, Gianyar pada 25 Mei 2026 ini diikuti oleh sekitar 100 siswa-siswi yang mengajak para siswa untuk memahami pentingnya wawasan global tanpa melupakan akar budaya lokal yang dimiliki.
Acara ini diawali dengan penyerahan plakat dan apresiasi kepada pihak SMAN 1 Sukawati sebagai bentuk penghargaan atas dukungan dan kerjasama antara Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Udayana dengan SMAN 1 Sukawati . Setelah pembukaan, suasana aula mulai terasa hidup dengan antusiasme para siswa yang siap mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya
Dipandu oleh Ni Wayan Wahyuni S.H. Int., M.A., selaku moderator dan kegiatan ini
Menghadirkan dua pembicara yaitu I Kadek Rian Prayana, S.AP., M.AP. dan Adi P. Suwecawangsa, S.IP., M.A. keduanya mengajak peserta untuk melihat budaya dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya sebagai warisan yang perlu dijaga, tetapi juga sebagai kekuatan yang dapat memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional.
Pada sesi pertama, I Kadek Rian Prayana, S.AP., M.AP. mengajak siswa berdiskusi tentang bagaimana budaya dapat menjadi alat promosi yang efektif di era global. Berbagai contoh budaya populer dunia seperti K-Pop, Anime, hingga Yoga digunakan untuk menunjukkan bahwa keunikan budaya memiliki daya tarik tersendiri jika dikemas dan dipromosikan dengan baik. Tidak hanya itu siswa juga diajak mengenali potensi budaya yang ada di sekitar mereka, mulai dari barong, kecak, gamelan, seni ukir, seni lukis, hingga berbagai tradisi khas Sukawati yang memiliki nilai budaya tinggi.
Tak kalah menarik, sesi kedua dilanjutkan oleh dan Adi P. Suwecawangsa, S.IP., M.A., yang mengajak para siswa berdiskusi mengenai diplomasi budaya dan pentingnya kearifan lokal di di era digital. Dalam pemaparannya, ia menyoroti bagaimana budaya lokal yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya memiliki nilai yang besar dan bisa menjadi identitas yang membanggakan. Melalui pemaparannya, para siswa diajak untuk lebih mengenal sejarah, tradisi, dan budaya daerahnya sendiri serta berperan aktif dalam melestarikan nya. Dengan dukungan teknologi dan media sosial, generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas, bahkan hingga ke tingkat internasional.
Antusiasme peserta semakin terlihat saat memasuki sesi Cultural pitch. Dalam sesi ini, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompak dan diminta mempresentasikan ide kreatif untuk mempromosikan budaya Bali. beragam gagasan menarik pun muncul, mulai dari pemanfaatan media sosial untuk tari dan musik tradisional, kolaborasi budaya lokal dengan tren masa kini, hingga penyelenggaraan festival budaya yang dapat menarik perhatian generasi muda.
Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai diplomasi budaya dan isu global, tetapi juga semakin memahami bahwa budaya lokal merupakan aset berharga yang dapat menjadi kekuatan Indonesia di mata dunia. Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi yang tepat, generasi muda diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga sekaligus memperkenalkan kearifan lokal Bali kepada masyarakat internasional.


UNIVERSITAS UDAYANA